oleh: Dr. K.H. Ahmad Rusydi Al Wahab, MA.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs dari Jakarta)
Kita melanjutkan pembahasan dari Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn karya Imam al-Ghazali, yang kali ini berfokus pada pentingnya mengingat kematian dan bahaya panjang angan-angan. Mengingat kematian bukanlah hal yang melemahkan semangat, melainkan pendorong untuk berbuat lebih baik dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.
Imam al-Ghazali menekankan bahwa kesadaran akan kematian dapat dijaga dengan dua hal utama: sering mendatangi kuburan dan menjenguk orang sakit. Rasulullah SAW bersabda tentang keutamaan menghadiri pemakaman jenazah, bahwa seorang muslim yang mengikuti prosesi pemakananb jenazah hingga selesai dimakamkan akan mendapatkan dua qirath pahala, dan satu qirath nilainya sebesar gunung Uhud. Dengan menghadiri kematian, kita diingatkan bahwa kelak kita pun akan kembali ke sana. Demikian pula ketika menjenguk orang sakit, kita disadarkan akan rapuhnya hidup dan betapa dekatnya kematian.
Kesadaran ini seharusnya mendorong kita untuk beramal jariyah, seperti bersedekah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, atau mendidik anak yang saleh. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Imam al-Ghazali kemudian memperingatkan bahaya ṭūl al-amal (panjang angan-angan), yaitu sikap menunda amal dengan harapan hidup masih panjang. Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada Abdullah bin Umar:
إِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَإِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore, dan jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Gunakanlah masa sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan qaṣr al-amal (pendek angan-angan), yaitu hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap saat bisa jadi kesempatan terakhir. Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Persiapkanlah di saat kamu hidup untuk kematianmu, persiapkanlah di saat kamu sehat untuk sakitmu.” Dengan begitu, seorang muslim tidak terlena dengan rencana duniawi yang belum tentu tercapai.
Rasulullah SAW bahkan menyebutkan ada dua hal yang paling beliau khawatirkan menimpa umatnya, yaitu mengikuti hawa nafsu (ittibā‘ al-hawā) dan panjang angan-angan (ṭūl al-amal). Hawa nafsu membuat manusia berpaling dari kebenaran, sementara panjang angan-angan menumbuhkan cinta dunia (ḥubb al-dunyā), akar dari segala kelalaian.
Dunia diberikan الله baik kepada orang yang dicintai maupun yang dibenci-Nya. Jika kepada orang yang dicintai, itu adalah karamah; jika kepada orang yang dibenci, itu hanyalah istidraj. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menasihati agar kita menjadi anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia, yakni menjadikan agama sebagai prioritas utama.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada dua sebab utama panjang angan-angan. Pertama adalah kebodohan (al-jahl), yaitu merasa aman dari kematian karena masih muda dan sehat, padahal banyak yang meninggal di usia muda. Obatnya adalah mendengarkan nasihat, membaca tentang kematian, dan merenungi setiap peristiwa sebagai pengingat.
Kedua adalah cinta dunia (ḥubb al-dunyā), yakni hati yang terpaut pada kenikmatan duniawi sehingga berat meninggalkannya. Penyakit ini sulit diobati kecuali dengan mengokohkan iman pada hari akhir, menyadari betapa mulianya balasan bagi orang beriman dan betapa kerasnya hukuman bagi yang durhaka, hingga dunia tampak hina dibandingkan akhirat.
Tingkat panjang angan-angan pun beragam. Ada yang berharap hidup seribu tahun, ada yang merencanakan sampai usia tua, ada yang menyiapkan rencana setahun, bahkan ada yang hanya menyiapkan sehari. Yang terbaik adalah yang terakhir, karena ia tidak terbebani oleh hal-hal yang belum pasti. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّكُمُ الْيَوْمَ فِي دَارِ عَمَلٍ وَلَا حِسَابٍ، وَغَدًا فِي دَارِ حِسَابٍ وَلَا عَمَلٍ
“Sesungguhnya hari ini kalian berada di tempat amal tanpa hisab, dan besok kalian berada di tempat hisab tanpa amal.” (HR. al-Bukhari).
Maka, marilah kita senantiasa mengingat kematian, menjauhi panjang angan-angan, dan memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Semoga الله menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang siap menghadapi kematian dengan bekal amal saleh, dan tidak terlena oleh dunia yang menipu. Āmīn.
Disarikan dari: https://www.youtube.com/live/2PVhLla_MBs?si=RWnxg5W557f6AWWF