Memahami Makna Yakin dalam Perspektif Tasawuf

admin111
admin111
4 Min Read

oleh: K.H. Mahmud Jonsen Al Maghribi, M.Si.,
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Kota Tanggerang)

Yakin adalah sebuah konsep yang sering kita dengar, tetapi maknanya sangat dalam. Dalam tradisi tasawuf, khususnya dalam kitab Pangersa Abah, kata yakin tidak hanya sekadar kepercayaan biasa, tetapi merupakan proses spiritual yang terus-menerus. Yakin di sini bukan sekadar membenarkan dalam hati, melainkan pengetahuan yang pasti tanpa keraguan sedikit pun.

Secara etimologis, yakin berarti pengetahuan yang tidak disertai kebimbangan. Dalam terminologi agama, yakin adalah meyakini sesuatu sesuai dengan hakikatnya, seperti yakin bahwa api itu panas atau air itu mengalir. Namun, dalam tasawuf, yakin memiliki kedudukan lebih tinggi, yaitu penglihatan batin yang lahir dari kekuatan iman. Keyakinan sejati tidak sekadar dibangun dari dalil atau logika, melainkan bersemi dari hati yang hidup. Karena itu para sufi menasihati: “Tinggalkan akalmu, gunakan Qolbumu.”

Keyakinan juga mencakup hal-hal gaib yang tidak terjangkau oleh akal manusia, seperti malaikat, takdir, surga, dan neraka. Namun, keyakinan terhadap hal gaib harus tetap seimbang dengan rasionalitas. Tanpa logika, keyakinan bisa tergelincir pada khayalan dan kegilaan.

- Advertisement -

Dalam tasawuf, yakin memiliki tiga tingkatan. Pertama adalah ‘Ilmul Yaqin (ilmu keyakinan), yaitu keyakinan berdasarkan pengetahuan. Seperti seseorang yang belum pernah melihat Ka’bah, tetapi meyakini keberadaannya melalui informasi. الله berfirman:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

“Sekali-kali tidak, sekiranya kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur: 5)

Tingkat kedua adalah ‘Ainul Yaqin (mata keyakinan), yaitu keyakinan seakan-akan melihat langsung. Contohnya, seseorang yang melihat Ka’bah melalui gambar atau video. الله menegaskan:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ

“Sungguh, inilah keyakinan yang benar.” (QS. Al-Waqi‘ah: 95)

Adapun tingkat tertinggi adalah Haqqul Yaqin (hakikat keyakinan), yaitu keyakinan yang lahir dari pengalaman langsung. Seperti seseorang yang telah berada di Makkah dan menyentuh Ka’bah dengan tangannya sendiri. الله berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran الله) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz-Dzariyat: 20)

Lebih jauh lagi, Pengesabah memulai ajarannya dengan ayat:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menafsirkan makna yakin sebagai kematian. Artinya, perjalanan keyakinan tidak berhenti pada teori atau pengalaman sesaat, melainkan terus berjalan hingga ajal menjemput. Ibadah raga seperti salat dan puasa akan terhenti ketika kita wafat, tetapi ibadah batin berupa Dzikir Khofi tidak akan pernah berhenti dan menjadi bekal di akhirat.

Di hari kiamat kelak, ketika manusia kebingungan hendak menuju ke mana, orang-orang yang terbiasa dengan iman dan zikir akan menjawab: “Kita kembali kepada الله.” Inilah hakikat firman الله:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada الله. Sungguh, aku adalah pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Berlari menuju الله bukanlah dengan kaki, melainkan dengan hati yang bersih. Hanya hati yang suci yang dapat kembali menghadap kepada-Nya. Maka, yakin dalam tasawuf adalah perjalanan batin yang tidak pernah usai hingga kematian tiba. Inilah anugerah terbesar bagi seorang hamba, sebab ibadah batin yang senantiasa terjaga akan menjadi bekal kita untuk pulang kepada الله.

Semoga الله meneguhkan keyakinan kita dan memberi kekuatan untuk istiqamah dalam beribadah hingga akhir hayat.

Disarikan dari: https://youtu.be/gshj01KFsFE?si=Dz-2WQE0bxF4R5w5

Share This Article
Leave a comment