oleh: Dr. K.H. Irfan Zidny Al Hasib, M.Si.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Jakarta)
Menurut pandangan Islam, tujuan utama penciptaan jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada الله SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zāriyāt: 56).
Ayat ini menjadi dasar bahwa orientasi seluruh aktivitas manusia haruslah berlandaskan ibadah. Setiap amal yang tidak dilandasi niat ibadah berarti telah keluar dari jalur yang ditetapkan oleh Sang Pencipta. Namun, dalam perjalanan hidup, manusia tidak selalu berada pada rel yang benar. Ketika seseorang mulai menyimpang dari tujuan ibadahnya, الله SWT memiliki cara untuk mengembalikannya ke jalan yang lurus.
Kadang الله memberi ilham berupa tafakkur (perenungan mendalam) sehingga hati tergerak untuk kembali menimbang tujuan hidup. Ada kalanya manusia dihadapkan pada khauf (ketakutan yang mencekam) melalui ujian berat seperti bencana, kecelakaan, atau krisis hidup, hingga muncul kesadaran baru untuk mendekat kepada-Nya. Adakalanya pula الله membangkitkan syauq (kerinduan yang menggelora) melalui pertemuan dengan orang-orang saleh, sehingga hati menjadi terbuka, rindu ibadah, dan terdorong untuk berubah. Namun, jika الله tidak menyayangi hamba-Nya, Ia bisa saja membiarkannya larut dalam kenikmatan dunia melalui istidrāj—yakni kondisi ketika seseorang terus diberi kelapangan rezeki sementara ia semakin jauh dari الله, hingga akhirnya terseret menuju kehancuran.
Karena itu, ibadah tidak boleh dipahami semata sebagai ritual formal. Dalam Islam, ibadah mencakup seluruh aspek kehidupan. Ada ibadah maḥḍah (formal), seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, yang waktunya, tempatnya, serta tata caranya telah ditentukan syariat. Ada pula ibadah ghairu maḥḍah (non-formal), yang mencakup aktivitas sehari-hari selama diniatkan karena الله dan tidak bertentangan dengan syariat. Tidur dengan niat agar kuat bangun shalat malam, makan dengan niat menjaga stamina beribadah, bekerja dengan niat menafkahi keluarga, hingga perjalanan menuju kantor yang diniatkan sebagai bagian dari ikhtiar halal—semua dapat bernilai ibadah. Kuncinya, setiap amal harus diniatkan lillāh dan tidak melanggar ketentuan-Nya.
الله pun memahami bahwa manusia memiliki sisi bashariyyah yang menuntut kebutuhan dasar, seperti makan, minum, dan tempat tinggal. Sering kali kebutuhan ini mengganggu kekhusyukan dalam ibadah, maka الله memberikan jaminan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Allah berfirman:
مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Az-Zāriyāt: 57).
Jaminan ini dimaksudkan agar manusia tidak terlalu sibuk dengan urusan duniawi, tetapi tetap fokus menunaikan tujuan ibadahnya. Oleh sebab itu, tawakal menjadi kunci utama. Manusia boleh berusaha, tetapi hasil tetap berada di tangan الله. Tidak setiap sebab melahirkan akibat. Seseorang yang bekerja keras belum tentu kaya, orang yang minum obat belum tentu sembuh. Semuanya bergantung pada kehendak الله. Nabi Musa ‘alaihis-salām pun pernah merasakan sakit perut, namun daun yang dimakannya hanya memberikan kesembuhan ketika الله mengizinkan. Kisah ini mengajarkan bahwa sebab hanyalah jalan, sementara kesembuhan dan hasil sejati datang dari الله semata.
Dengan meletakkan sandaran sepenuhnya kepada الله, hati manusia akan meraih ketenangan. Ia tidak akan mengorbankan agamanya demi dunia, karena yakin bahwa rezeki dan segala urusan kehidupan sepenuhnya dalam genggaman-Nya.
Disarikan dari: https://youtu.be/3l5I2IiR5NE?si=CnyfMilHnMSbm–6