Qana’ah: Kekayaan Jiwa yang Tak Ternilai

admin111
admin111
4 Min Read

Oleh: K.H. Luqman Kamil Ashiddiq, S.Pd.I.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Cimahi)

Qana’ah adalah sikap jiwa merasa cukup terhadap pembagian الله, meskipun tak sesuai dengan keinginan kita. Ini bukan pasrah tanpa usaha, tapi kemampuan untuk tenang menerima apa yang ada, tanpa keluh kesah terhadap yang tiada. Lawan dari qana’ah adalah serakah—tak pernah merasa cukup, selalu ingin lebih, bahkan terhadap yang bukan miliknya.

Dalam diri manusia ada dimensi batiniah yang abstrak, yang disebut latifah. Di antara latifah yang penting adalah latifatur-ruhi, letaknya di bawah dada sebelah kanan. Di sinilah bersemayam sifat-sifat mulia: pemaaf, tawadhu, dermawan, sabar, termasuk qana’ah. Wilayah ini pula disebut sebagai tempatnya sifat kenabian, bahkan tempat bersemayamnya nilai-nilai yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Qana’ah adalah alat ukur kecerdasan spiritual. Banyak orang tahu secara teori bahwa sabar itu baik, bahwa qana’ah itu indah, tapi tak semua mampu mengaplikasikannya dalam hidup. Maka kecerdasan spiritual bukan soal tahu ilmunya, tapi mampu mewujudkan nilai itu dalam keseharian. Inilah buah dari dzikir dan istiqomah—latihan batin yang terus-menerus yang memunculkan karakter sejati.

Rasulullah SAW bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

“Zuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya الله mencintaimu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”

Hadis ini bukan sekadar perintah untuk miskin, bukan pula melarang kita memiliki harta. Zuhud bukan berarti melepas dunia, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai beban jiwa. Kita bekerja, kita berusaha, kita meraih rezeki, tapi hati kita tidak tergantung pada itu semua. Zuhud adalah keyakinan bahwa bagian dari الله lebih baik, lebih banyak, dan lebih utama dibanding bagian dari tangan manusia.

Zuhud juga tidak bisa dipisahkan dari qana’ah. Keduanya adalah satu rangkaian nilai. Zuhud adalah ekspresi dari qana’ah yang telah mengakar kuat. Orang yang zuhud bisa meninggalkan sesuatu yang halal tapi berlebihan, dan sanggup menjauhi yang haram meskipun sedikit. Ini bukan sikap yang lahir dari keterpaksaan, tapi dari keyakinan penuh kepada الله.

Saya pernah berkata kepada para ikhwan: kecerdasan spiritual itu adalah nilai-nilai ketakwaan yang sanggup direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Maka kalau kita hanya tahu ilmunya, belum sampai pada realisasi, kita baru cerdas secara teori, belum secara spiritual. Maka teruslah berdzikir, teruslah beristiqomah, agar karakter-karakter baik seperti qana’ah dan zuhud tumbuh dan mekar dalam jiwa kita.

Dalam kehidupan, akan banyak ujian: hilangnya rezeki yang biasa kita dapat, datangnya kesempitan setelah kelapangan. Tapi orang yang qana’ah tetap tenang. Ia tidak galau ketika kehilangan. Ia tahu bahwa rezeki datang dari الله, dan jika الله mengambilnya, pasti ada hikmah dan ganti yang lebih baik.

Akhirnya, saya tutup dengan satu renungan: orang yang paling jujur adalah yang sanggup mengelola amanah, terutama dalam hal harta dan kepemimpinan. Zuhud dan qana’ah membuat seseorang tidak bergantung pada pemberian manusia, tidak silau oleh jabatan, dan tidak tunduk pada syahwat duniawi. Inilah harta yang tidak akan pernah sirna—ketenangan batin, kekayaan jiwa, dan cinta dari الله dan manusia.

Semoga kita semua dikaruniai sifat qana’ah dan zuhud yang sejati. Semoga menjadi karakter yang tumbuh dalam diri, bukan sekadar pengetahuan di kepala. Mari terus belajar, berdzikir, dan beristiqomah. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Disarikan dari ceramah: https://youtu.be/HlFXP1j7XFQ?si=DrBo9ZJipEZU0LVa

Share This Article
1 Comment