oleh: K.H. Mahmud Jonsen Al Maghribi, M.Si.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Kota Tanggerang)
Sering kali kita mendengar tentang Rukun Islam, namun malam ini kita akan menekankan pada Rukun Agama, yang terdiri dari tiga pilar utama: Iman, Islam, dan Ihsan.
Membedakan Islam dan Iman
الله SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat, ayat 14:
Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami telah tunduk (Islam)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada الله dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, الله Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ayat ini memberikan sebuah pelajaran fundamental. Banyak di antara kita yang telah menjadi seorang Muslim, mungkin sejak lahir, namun status “Islam” tersebut belum tentu diiringi dengan “Iman” yang meresap ke dalam sanubari. Islam adalah penyerahan diri secara lahiriah, sementara Iman adalah keyakinan yang tertanam kokoh di dalam hati. Kita patut bersyukur jika الله telah memasukkan Iman itu ke dalam hati kita, sebuah nikmat yang jauh lebih berharga dari sekadar harta atau bahkan ilmu.
Tiga Pilar Agama: Menuju Kesempurnaan
Untuk memahami perjalanan spiritual kita, mari kita uraikan ketiga pilar Rukun Agama:
1. Iman: Pondasi Keyakinan
Iman adalah percaya atau yakin. Keyakinan ini mencakup enam rukun yang kita kenal: beriman kepada الله, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar (ketetapan baik dan buruk).
Beriman berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa الله adalah satu-satunya Tuhan, Yang Maha Mencipta, Maha Mengatur, Maha Melindungi, dan memiliki segala sifat kesempurnaan yang terangkum dalam Asmaul Husna. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Thaha ayat 8:
Dialah الله, tidak ada Tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaul Husna).
2. Islam: Jalan Keselamatan
Setelah memiliki pondasi Iman, kita melangkah kepada Islam. Ber-Islam berarti kita harus yakin bahwa ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Kata “Islam” sendiri berasal dari akar kata salima yang berarti damai dan selamat, serta aslama yang berarti berserah diri, patuh, dan tunduk.
Kita harus memiliki keyakinan penuh (haqqul yaqin) pada syariat Islam. Jika ada keraguan sedikit pun bahwa ajaran ini akan mengantarkan kita pada keselamatan, maka goyahlah seluruh bangunan agama kita.
3. Ihsan: Puncak Spiritualitas Melalui Thariqah
Di sinilah letak peran penting thariqah. Jika Iman adalah keyakinan pada rukunnya, dan Islam adalah keyakinan pada ajarannya, maka Ihsan adalah keyakinan yang ditempa melalui jalan thariqah.
Thariqah adalah laku spiritual untuk menempa diri agar sampai pada tingkat keyakinan tertinggi. Ketika kita masuk thariqah, pada hakikatnya kita sedang belajar untuk “yakin”. Jika keyakinan itu telah mencapai puncaknya, maka berlakulah Kun Fayakun—apa yang kita inginkan akan terwujud atas izin الله. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis qudsi, الله berfirman, “Taatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan menjadikanmu (bisa mengatakan kepada sesuatu) jadi, maka jadilah ia.” Tentu, maqam kita belum sampai ke sana. Yang telah sampai pada tingkat itu adalah Guru Agung kita, Pangersa Abah, sehingga kita berwasilah kepada beliau.
Wasilah itu mudah dipahami. Jika ingin bertemu presiden, carilah orang terdekatnya. Demikian pula, untuk mendekat kepada الله, kita menempuh jalan yang telah ditunjukkan oleh para Mursyid yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Thariqah adalah jalan pintas yang paling mudah, paling cepat, dan paling utama untuk sampai kepada الله.
Inti dari Ihsan dan thariqah adalah zikir. Zikir adalah ruhnya ibadah (ad-dzikru ruhul ‘ibadah). Shalat, puasa, zakat, dan haji kita akan menjadi kosong tanpa kehadiran zikir kepada Allah. Amaliah kita diangkat oleh kalimatut thayyibah, Lailahaillallah.
الله menjanjikan keberkahan bagi mereka yang lurus di jalan ini, sebagaimana dalam Surah Al-Jinn ayat 16:
Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air (rezeki) yang melimpah.
“Air yang melimpah” di sini ditafsirkan sebagai rezeki, kemudahan, keberkahan, ketenteraman, dan kebahagiaan. Ini adalah dalil bahwa thariqah memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an.
Istiqamah: Kunci Menempuh Perjalanan
Jalan thariqah ini panjang dan penuh liku. Terkadang panas, terkadang dingin; terkadang terjal, terkadang datar. Namun, apa pun situasinya—politik berganti, zaman berubah—kita harus tetap istiqamah dalam zikir.
Pangersa Abah menasihati kita untuk memakai “kacamata kuda”, fokus lurus ke depan menuju الله dan tidak menoleh pada gangguan di kiri dan kanan. Jika kita berhenti karena terpesona oleh keindahan dunia di sepanjang jalan, kita akan tertinggal. Teruslah berjalan bersama rombongan Guru Mursyid, dalam suka maupun duka.
Firman الله dalam Surah At-Taubah ayat 128-129 mengingatkan kita akan sifat Rasul dan para pewarisnya yang penuh kasih sayang serta pentingnya bertawakal:
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah الله bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”
Ayat-ayat الله dan maklumat dari Pangersa Abah adalah ujian. Bagi orang beriman, ia akan menambah keyakinan (At-Taubah: 124). Sebaliknya, bagi mereka yang hatinya berpenyakit ragu dan buruk sangka, ia justru akan menambah kekafiran mereka (At-Taubah: 125). Sesungguhnya, orang yang meninggalkan thariqah adalah mereka yang telah ditinggalkan oleh الله dari rahmat zikir-Nya.
Semoga kita semua senantiasa diberkahi, dikuatkan untuk terus istiqamah di jalan ini, dan segala hajat kita, baik dunia maupun akhirat, dikabulkan oleh الله SWT dengan berkah dan karamah Pangersa Abah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Al-Fatihah.
Disarikan dari ceramah: https://youtu.be/NTFcpKxIEyg?si=GWIiZ3QmuyQ9sKYN