Oleh: Dr. K.H. Subhan Asyierboni
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Cirebon)
“…ṣungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)
Kutipan ayat suci Al-Qur’an di atas menjadi pengingat fundamental bagi kita semua. Kebahagiaan sejati bukanlah semata-mata urusan fisik, melainkan berakar pada kesucian jiwa. Sungguh, orang yang paling berbahagia adalah mereka yang berjuang menyucikan jiwanya, dan sebaliknya, kerugian besar akan menimpa mereka yang membiarkan jiwanya kotor.
Antara Kebersihan Fisik dan Kesucian Hati
Banyak di antara kita yang begitu fokus pada kebersihan fisik. Pagi, siang, dan malam, waktu dan tenaga dihabiskan untuk merawat tubuh, mempercantik penampilan dengan berbagai produk. Upaya ini, sebagai wujud syukur, tentu penting. Namun, kita harus menembus lebih dalam, menuju esensi diri kita: hati, jiwa, dan ruh.
Kebahagiaan hakiki ditentukan oleh kebersihan batin kita. Persoalannya, kotoran jiwa tidak terlihat secara kasat mata. Jika di lantai rumah ada sedikit saja pasir, kita merasa terganggu. Apalagi jika ada sampah. Hati kita pun demikian. Ketika ada kotoran di dalamnya, kita sebenarnya bisa merasakannya. Perkataan menjadi tidak baik, emosi tidak stabil, perbuatan sering khilaf, dan hati diliputi kegelisahan.
Kotoran-kotoran ini bisa berupa iri, dengki, khawatir, takut, pesimis, dan penyakit hati lainnya. Inilah kotoran tak terlihat yang sering kita abaikan, padahal dampaknya sangat nyata dalam kehidupan.
Zikir: Jalan Utama Membersihkan Jiwa
Lalu, bagaimana cara membersihkan jiwa? Jawabannya terletak pada Dzikir, yaitu mengingat الله. Melalui bimbingan guru mursyid (Pangersa Abah), kita diajarkan berbagai amaliah seperti Dzikir harian, khataman, dan manaqiban, baik Dzikir khafi (tersembunyi dalam hati) maupun zikir jahar (terucap lisan). Semua ini adalah proses “pembersihan” untuk mengeluarkan kotoran dari dalam kalbu.
Jika hati kita dipenuhi dengan asma الله, maka kepribadian yang muncul adalah kebaikan. Sebaliknya, jika hati dikuasai oleh selain-Nya, yang lahir adalah amarah, dendam, dan kegelisahan. Ujung dari semua pencarian duniawi—baik itu harta, jabatan, maupun lainnya—adalah untuk merasakan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa diraih dalam keadaan hati yang kotor.
Puncak Kebahagiaan: Meraih Ridha Allah
Orang-orang yang berhasil membersihkan hatinya adalah mereka yang akan meraih kebahagiaan sejati, yaitu ridha الله SWT. Betapa mengerikan jika kita hidup di dunia ini tanpa naungan ridha-Nya. Rezeki, pekerjaan, keluarga, dan seluruh aktivitas kita akan terasa hampa dan jauh dari keberkahan.
Perjalanan hidup kita memiliki beberapa tahapan: alam ruh, alam rahim, alam dunia, lalu berlanjut ke alam barzakh dan alam akhirat. Nasib kita di akhirat—apakah akan bahagia atau sengsara, di surga atau neraka—sepenuhnya ditentukan oleh apa yang kita usahakan hari ini di dunia.
Sebagaimana Pangersa Abah sampaikan:
“Keridhaan الله di akhirat itu kelak tidaklah akan dapat diperoleh, melainkan dengan meraih keridhaan-Nya di dunia saat masih hidup, sebelum ajal menjemput.”
Jika kita berhasil meraih ridha الله di dunia, maka niscaya ridha itu akan menyertai kita di alam barzakh dan akhirat.
Baiat dan Talqin: Kunci Meraih Ridha di Dunia
Bagaimana kita bisa yakin telah mendapatkan ridha الله di dunia? Guru kita memberikan sebuah jaminan yang kokoh: yaitu melalui baiat dan talqin zikir.
Ini bukanlah hal baru, melainkan mengikuti jejak Rasulullah SAW yang memberikan baiat kepada para sahabatnya. Al-Qur’an mengabadikan momen ini dalam Surat Al-Fath ayat 18:
“Sungguh, الله telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)
Kita, pada hari ini, melakukan hal yang sama. Kita berbaiat (berjanji setia) kepada Nabi Muhammad SAW melalui wasilah (perantara) para pewarisnya, yaitu silsilah guru mursyid yang sampai kepada kita hari ini. Baiat ini adalah janji untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjadi hamba yang saleh, dan meneguhkan tauhid Lā ilāha illallāh.
Hakikat Talqin: Meneguhkan “Lā ilāha illallāh”
Talqin zikir adalah proses menanamkan kalimat tauhid ke dalam hati. Ini adalah metode untuk melakukan nafi (peniadaan) dan isbat (penetapan).
- Lā ilāha (tiada tuhan): Meniadakan segala bentuk tuhan-tuhan palsu yang seringkali kita sembah tanpa sadar, seperti harta, jabatan, popularitas, dan hawa nafsu.
- Illallāh (selain الله): Menetapkan bahwa satu-satunya Tuhan yang hakiki dan layak disembah hanyalah الله.
Dengan memperbanyak zikir ini, kita secara sadar “menginstal” kembali keyakinan murni ke dalam jiwa, menyadarkan diri dari segala bentuk pemberhalaan modern.
Strategi Dakwah: Mengajak dalam Kebaikan
Sayangnya, istilah ‘baiat’ dan ‘talqin’ terkadang dipandang negatif oleh sebagian masyarakat. Pangersa Abah mengajarkan pentingnya ilmu dan hikmah dalam berdakwah. Beliau mengizinkan penggunaan istilah-istilah lain yang lebih mudah diterima, seperti “ijazah zikir,” “terapi zikir,” atau “amaliah untuk haji mabrur,” selama substansinya sama: menanamkan kalimat Lā ilāha illallāh di dalam hati.
Tugas kita bukan hanya mengamalkan, tetapi juga melestarikan ajaran ini. Ajaklah saudara, tetangga, dan sahabat kita untuk meraih ridha الله melalui talqin zikir. Di era digital ini, caranya semakin mudah. Cukup dengan mengajak mereka bergabung dalam majelis zikir online, mendengarkan tausiyah, dan merasakan keberkahannya. Perlahan, dengan izin الله, hati mereka akan terbuka.
Penutup: Syukur Atas Nikmat Iman
Marilah kita senantiasa bersyukur. Dari sekian banyak nikmat yang kita terima, nikmat telah menerima baiat dan talqin zikir adalah salah satu yang terbesar. Mari kita bangga dan percaya diri, karena kita tengah menapaki jalan yang diridai الله SWT, sebagaimana yang telah dijalani oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Semoga الله SWT senantiasa melimpahkan rahmat, karamah, dan barakah dari guru-guru kita, memberikan kita kekuatan lahir dan batin, mengabulkan segala hajat baik kita, serta menyelamatkan kita semua di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Disarikan dari ceramah: https://youtu.be/urwxp45Qfe8?si=rfXeR_Uk6kqav2wB