oleh: K.H. Irfan Zidny, S.H., Msi.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs dari Jakarta)
Dalam salah satu munajatnya yang mendalam, ulama besar sufi, Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari, melantunkan doa yang sarat makna tentang hakikat الله dan hijab (penghalang) yang menutupi manusia dari-Nya. Kajian ini mengupas sebuah penggalan dari munajat tersebut, yang menjelaskan bagaimana الله, dalam kemuliaan-Nya, tak terjangkau oleh indera, dan apa saja yang menjadi penghalang bagi seorang hamba untuk “melihat”-Nya dengan mata hati.
Munajat tersebut diawali dengan kalimat:
يَا مَنِ احْتَجَبَ فِي سُرَادِقَاتِ عِزِّهِ عَنْ أَنْ تُدْرِكَهُ الْأَبْصَارُ
Yaa man ihtajaba fii suraadiqooti ‘izzihi ‘an an tudrikahul abshoor
Artinya: “Wahai Dzat yang berhijab di dalam benteng-benteng kemuliaan-Nya, sehingga indera-indera penglihatan tak mampu menjangkau-Nya.”
Kalimat ini menegaskan sebuah paradoks ilahi. الله pada hakikatnya tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Kita, sebagai manusia, terhijab dari melihat Dzat-Nya secara langsung. Namun, seringkali hijab ini menjadi lebih tebal karena perbuatan dan keyakinan kita sendiri. Kita tahu الله Maha Melihat (Al-Bashir), tetapi kita tetap melakukan maksiat. Mengapa? Karena “الله-nya ketutup sama kita,” artinya kesadaran kita akan kehadiran الله terhalang.
Lalu, apa saja yang menjadi hijab atau penghalang tebal tersebut? Berdasarkan uraian munajat ini, ada empat perkara utama yang dapat membuat seseorang terhijab dari Allah.
Empat Penghalang Utama (Hijab) antara Hamba dan الله
1. Cinta Dunia (حُبُّ الدُّنْيَا – Hubbud Dunya)
Penghalang pertama dan yang paling umum adalah cinta yang berlebihan terhadap dunia. Ketika hati seseorang telah terpaut pada materi, jabatan, dan segala kenikmatan duniawi, ia akan kesulitan “melihat” الله. Logikanya menjadi terbalik; dunia menjadi tujuan, sementara akhirat dan Allah dikesampingkan.
Contoh sederhananya, seseorang ditawari uang dalam jumlah besar dengan syarat ia harus melewatkan waktu shalat. Jika ia memilih uang tersebut dan mengabaikan panggilan الله, saat itu dunialah yang menjadi tuhannya. الله telah tertutup oleh hijab hubbud dunya.
2. Keterikatan pada Hukum Sebab-Akibat (Hukum Kausalitas)
Hijab kedua adalah keterikatan mutlak pada hukum sebab-akibat (ارْتِبَاطُ السَّبَبِ بِمُسَبِّبِهَا – irtibathu as-sabab bi musabbabiha). Ini adalah keyakinan bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi melalui sebab-sebab yang tampak secara lahiriah. Misalnya, keyakinan bahwa rezeki hanya bisa didapat dengan bekerja, atau kesembuhan hanya bisa datang dari obat.
Ketika seseorang berpegang teguh pada kausalitas semata, ia terhijab dari الله. Ia lupa bahwa الله adalah Musabbibul Asbab (مُسَبِّبُ الْأَسْبَابِ), yaitu Penyebab dari segala sebab. الله Maha Kuasa memberikan rezeki tanpa melalui perantara kerja, atau memberi kesembuhan tanpa melalui obat. Orang yang hanya bersandar pada sebab-akibat akan mudah goyah dan cemas ketika sebab-sebab itu hilang. Sebaliknya, orang yang bersandar pada الله akan tenang, karena ia yakin ada kekuatan di balik semua sebab yang mampu menolongnya.
3. Berhenti pada Aspek Lahiriah Syariat (الْوُقُوْفُ مَعَ ظَوَاهِرِ الشَّرِيْعَةِ)
Penghalang ketiga adalah ketika seseorang menjalankan ibadah namun hanya berhenti pada aspek lahiriah (formalitas) syariat. Ibadahnya didasari oleh targhib (harapan akan imbalan) dan tarhib (ketakutan akan siksa) semata.
Misalnya, seseorang shalat Dhuha hanya karena ingin rezekinya lancar, atau shalat fardhu hanya karena takut masuk neraka. Ia tidak menyelami makna shalat yang lebih dalam sebagai bentuk pengabdian, penghambaan, dan komunikasi mesra dengan Sang Pencipta. Ketika ibadah hanya menjadi rutinitas kosong tanpa ruh, maka ia menjadi hijab yang memisahkannya dari الله.
4. Terlena dalam Manisnya Ibadah dan Lezatnya Munajat (الْوُقُوْفُ مَعَ حَلَاوَةِ الطَّاعَةِ وَلَذَّةِ الْمُنَاجَاةِ)
Ini adalah hijab yang paling halus dan berbahaya, bahkan disebut sebagai سُمٌّ قَاتِلٌ (summun qootilun), atau “racun yang mematikan”. Hijab ini terjadi ketika seorang hamba mulai merasakan nikmat dan lezatnya beribadah—seperti ekstasi saat berzikir, ketenangan saat shalat, atau bahkan dianugerahi karomah (keistimewaan indrawi)—lalu ia berhenti di situ.
Kenikmatan spiritual itu sendiri yang menjadi tujuannya, bukan lagi Allah. Ia beribadah untuk mengejar “rasa” nikmatnya, bukan untuk الله. Jika suatu saat ia berzikir dan tidak merasakan “enaknya”, ia menjadi malas dan berhenti. Lebih berbahaya lagi, jika ia dianugerahi karomah (misalnya bisa melakukan hal-hal luar biasa), lalu ia sibuk mempertahankan dan membanggakan karomahnya, maka sesungguhnya itu justru menambah tebal hijabnya dari الله. Tujuannya telah bergeser dari الله kepada “hadiah” dari الله.
Ketika الله Bertajalli: Hakikat Allah sebagai Az-Zahir
Meskipun manusia seringkali terhijab, munajat Ibn Atha’illah kemudian beralih pada hakikat الله yang sesungguhnya Maha Tampak.
يَا مَنْ تَجَلَّى بِكَمَالِ بَهَائِهِ فَتَحَقَّقَتْ عَظَمَتُهُ الْأَسْرَارُ
Yaa man tajalla bi kamaali bahaa-ihi, fa tahaqqoqot ‘adzomatuhul asroor
Artinya: “Wahai Dzat yang bertajalli (menampakkan diri) dengan kesempurnaan keindahan-Nya, maka menjadi nyatalah keagungan-Nya bagi rahasia-rahasia (hati kaum ‘arifin).”
Bagi orang-orang yang hatinya bersih (al-arifin), keagungan الله justru menjadi nyata. Munajat ini diakhiri dengan pertanyaan retoris yang kuat:
كَيْفَ تَخْفَى وَأَنْتَ الظَّاهِرُ؟ أَمْ كَيْفَ تَغِيْبُ وَأَنْتَ الرَّقِيْبُ الْحَاضِرُ؟
Kaifa takhfaa wa anta az-zhaahiru? Am kaifa taghiibu wa anta ar-raqiibul haadhiru?
Artinya: “Bagaimana mungkin Engkau samar (tersembunyi), sedangkan Engkau adalah Az-Zahir (Yang Maha Tampak)? Atau bagaimana mungkin Engkau sirna, sedangkan Engkau adalah Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi) dan Al-Hadir (Yang Maha Hadir)?”
Pada akhirnya, hijab itu ada pada diri kita, bukan pada الله. الله selalu hadir, selalu mengawasi, dan selalu menampakkan kebesaran-Nya di seluruh alam semesta. Tugas kita adalah berjuang menyingkap empat lapis hijab tersebut—cinta dunia, ketergantungan pada sebab-akibat, formalitas ibadah, dan jebakan kenikmatan spiritual—agar kita dapat “menyaksikan” kehadiran-Nya dengan mata hati yang jernih.
Disarikan dari ceramah: https://youtu.be/T5_gvI7I658?si=fTGOzsV2QjVlMPhv