Meraih Hikmah di Balik Pilihan الله

admin111
admin111
6 Min Read

oleh: Dr. K.H. Ahmad Rusydi Al Wahab, MA.
(Wakil Talqin Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Jakarta)

Pelajaran pertama yang dapat kita petik adalah dari kisah Nabi Adam AS. Setinggi apapun kedudukan (maqam) seorang manusia, tidak akan pernah ada tempat yang aman dari godaan setan. Godaan ini baru akan berakhir ketika langkah kaki pertama kita telah berada di hadapan الله SWT. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah merasa aman dari tipu daya iblis. Ketika Nabi Adam dan Hawa tergoda, الله mengajarkan mereka sebuah doa taubat yang sangat indah, yang diriwayatkan sebagai:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Robbanaa dzolamnaa anfusanaa wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna Minal khosirin

- Advertisement -

Dari kisah ini, para ulama tafsir sufi menekankan bahwa doa yang paling baik adalah doa yang diajarkan langsung oleh guru kita yang memiliki sanad (rantai keilmuan) yang bersambung. Sebagaimana seorang pasien yang berakal hanya akan meminum obat dari dokter spesialisnya dan mengikuti segala perintahnya dengan penuh adab.

 

Orientasi Ibadah: Antara Dunia dan Cinta Hakiki

Dalam beribadah, Islam memperbolehkan kita memiliki orientasi duniawi, selama permohonan itu ditujukan semata-mata kepada الله. Misalnya, melaksanakan shalat Dhuha dengan niat agar rezeki dilancarkan atau membaca surat Al-Waqi’ah agar terhindar dari kesengsaraan adalah hal yang dibolehkan.

Namun, ada tingkatan ibadah yang lebih tinggi, yaitu  ibadatul muhibbin, ibadahnya para kekasih الله. Orientasi mereka bukanlah surga atau takut pada neraka, melainkan murni karena cinta dan kerinduan kepada الله. Orientasi mereka adalah:

إِلَهِي أَنْتَ مَقْصُودِي وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِي

Ilahi Anta maqsudi waridhoka matlubi

Tokoh yang paling masyhur dengan tingkatan ini adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Bagi mereka, kenikmatan tertinggi adalah berzikir kepada الله (Dzikrullah).

 

Kisah Thalut: Ketika Pilihan الله Tak Sesuai Keinginan Manusia

Kisah kedelapan yang kita bahas adalah tentang Bani Israil yang meminta seorang pemimpin untuk berperang. Nabi mereka pada saat itu, Samuel, menyampaikan bahwa الله telah memilih Thalut sebagai raja mereka.

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا

Wa qoola lahum nabiyyuhum innallooha qod ba’atsa lakum Thooluuta malikaa

Namun, Bani Israil memprotes pilihan tersebut. Mereka merasa lebih berhak atas kepemimpinan dengan dua alasan utama:

  1. Nasab: Thalut bukan berasal dari garis keturunan raja (yaitu dari suku Yahuza), melainkan dari suku Bunyamin yang dianggap sebagai keturunan orang biasa.
  2. Harta: Thalut adalah seorang yang miskin, pekerjaannya hanya sebagai pengisi air atau penyamak kulit.

Menanggapi protes mereka, Nabi Samuel menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

innallahastofaahu ‘alaykum wazaadahullo bastatan fil ‘ilmi wal jism

“Sesungguhnya الله telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya kelebihan ilmu dan tubuh yang perkasa.”.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa manusia seringkali hanya melihat dari sisi lahiriah (zhahir). Kita tidak boleh meremehkan apa yang telah الله pilihkan untuk kita, karena الله memilih berdasarkan hakikat yang tidak kita ketahui. Janganlah tertundanya doa membuat kita putus asa, karena الله menjamin akan mengabulkan doa, namun sesuai dengan apa yang الله pilihkan untuk kita, bukan apa yang kita pilih untuk diri kita sendiri, dan di waktu yang الله kehendaki, bukan di waktu yang kita inginkan.

Lihatlah bagaimana الله menghancurkan pasukan gajah Abrahah hanya dengan mengirimkan burung-burung Ababil yang membawa kerikil. Atau bagaimana dari seorang anak perempuan yang lahir dari rahim Hannah (yang awalnya mendambakan anak laki-laki) kelak menjadi seorang wanita suci Maryam. Di balik sesuatu yang kita anggap remeh, seringkali terdapat hal yang luar biasa.

 

Niat, Ikhtiar, dan Keberkahan

Niat memegang peranan yang sangat penting. Niat Bani Israil yang sejak awal sudah tidak lurus pada akhirnya membuat sebagian besar dari mereka lari dari medan perang.

Dalam berusaha, الله hanya meminta kita untuk berikhtiar, sementara yang memberi rezeki adalah الله. Seperti Sayyidatuna Maryam yang diperintahkan menggoyangkan pohon kurma yang sudah mati setelah melahirkan. Secara logika, tenaganya tidak akan cukup, namun الله ingin melihat usahanya. Setelah itu, الله turunkan buah kurma matang dan air minum yang menyegarkan. Inilah yang disebut keberkahan, ketika hasil yang didapat jauh melebihi apa yang diusahakan.

 

Hakikat Doa dan Jalan Mengenal الله

Inti dari doa dan zikir adalah hati yang tulus dan bersih. Terkadang, doa yang keluar dari lisan seorang wali yang hatinya bersih, meskipun lafalnya sederhana atau bahkan “tidak sesuai kaidah” secara lahiriah, justru lebih mustajab.

Untuk mencapai pengenalan sejati kepada الله (ma’rifat), para ulama menjelaskan ada beberapa tingkatan yang harus dilalui, diibaratkan seperti buah kelapa:

  1. Syariat: Ini adalah kulit terluar kelapa. Ia adalah aturan lahiriah yang harus dijaga. Tanpa syariat, isinya akan hancur.
  2. Thariqah: Ini adalah metode atau cara untuk membuka batok kelapa tersebut. Setiap tarekat mungkin punya cara yang berbeda, namun tujuannya sama.
  3. Hakikat: Ini adalah isi kelapanya, yaitu daging putih dan airnya. Inilah buah atau nikmatnya beribadah yang mulai dirasakan setelah menempuh syariat dan thariqah dengan benar.
  4. Ma’rifat: Ini adalah rasa dari kelapa itu setelah dimakan. Ma’rifat adalah sebuah anugerah (mauhibah) dari الله, di mana Dia membukakan hijab sehingga seorang hamba dapat “melihat” cahaya-Nya dan mengenal-Nya secara hakiki.

Semoga kita semua dapat memetik pelajaran dari setiap kisah-kisah ini, senantiasa menjaga hati dan niat kita, serta diberikan kekuatan untuk menempuh jalan untuk semakin dekat dan mengenal الله SWT. Wallahu a’lam bishawab.

Disarikan dari ceramah: https://youtu.be/Wl9dIw8oP6k?si=ksJuvybSS7j1M5hI

Share This Article
Leave a comment